Minggu, 12 Desember 2010

PENGGUNAAN KOMUNIKASI NON VERBAL MAHASISWA/I FISIP UAJY

   Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.

3.      Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.


4.      Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda. Pesan ini oleh Dedy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa.

Dari beberapa bentuk dan pengertian komunikasi non verbal diatas, objek penelitian yang dilakukan adalah mahasiswa/i FISIP UAJY. Melakukan pengamatan atas komunikasi non verbal yang kebanyakan dilakukan oleh mahasiswa/i FISIP UAJY adalah pesan artifaktual. Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.
Pesan artifaktual dipilih karena, kebanyakan warga FISIP UAJY adalah wanita, dan sebagian besar mahasiswi di fisip saat datang ke kampus 60% bergaya stylish,dan mode yang up to date. Mahasiswa berstatus ekonomi menengah keatas sesuai dengan gaya berpakaiannya yang stylish. Sedangkan mahasiswi yang berstatus ekonomi menengah atau standar, sesuai dengan gayanya yang berpakaian biasa saja. Di fisip pula dapat terlihat bahwa untuk masalah pertemanan terjadi sebuah “gap” atau kesenjangan antar individunya. Mahasiswa kelas ekonomi menengah keatas ,pasti berteman dengan mahasiswa yang status ekonominya juga menengah keatas.  
Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi fisip lebih mementingkan cara penampilannya agar terlihat berbeda dengan orang lain dan menjadi seorang trendsentter diantara mahasiswa lainnya. Dari pakaian bermerek terkenal seperti D&G, GUCCI, CHANNEL, HERMES, LOUIS VUITTON, sampai pakaian yang tak bermerek pun terdapat di kampus fisip ini, Menurut mereka( para mahasiswa/I FISIP UAJY), penampilan yang baik akan membuat mereka nyaman, dan percaya diri untuk bersosialisasi, dan melatih mereka dalam dunia bekerja. Penampilan dalam berpakaian di FISIP UAJY menjadi ajang tersendiri bagi mereka. Ada seorang mahasiswi di FISIP UAJY yang sudah bekerja menjadi seorang model.
Dari pengamatan yang dilakukan, mahasiswi tersebut setiap kali datang ke kampus setiap hari pasti dengan gaya berpakaian yang berbeda – beda setiap harinya. Dalam seminggu, tidak ada baju dipakai dua kali, begitu juga pada minggu berikutnya. Bentuk tubuh yang baik, dan proposional tidak menjadi suatu permasalahan dalam mengenakan pakaian – pakaian tersebut. Jadi, pada intinya komunikasi non- verbal yang dilakukan adalah dengan komunikasi non verbal artifaktual.
SUMBER :
·         Mulyana, Deddy . 2008. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar.  Bandung :  PT. Remaja Rosdakarya.
DISUSUN OLEH : ELLISABETH DEVI R
03925

komunikasi interpersonal tatap muka dengan komunikasi bermedia

Dari beberapa penjelasan mengenai komunikasi interpersonal tatap muka dapat dilihat bahwa, komunikasi dengan tatap muka memiliki keuntungan yakni kita sebagai komunitor dapat melihat respon balik dari komunikan, tetapi komunikator juga harus memiliki waktu untuk melakukan pertemuan. Komunikasi interpersonal bermedia. Media saat ini merupakan alat bantu komunikasi yang sangat efektif. Alat  komunikasi yang dapat digunakan seperti computer, bahkan computer portable (laptop, i-pad), ponsel, kini ada ponsel pintar. Bila ingin mengirimkan surat dapat melalui surat elektrik atau dikenal sebagai e-mail. Berbagai alat komunikasi canggih tersebut, kini lebih sering digunakan oleh khalayak, karena dapat menghemat, waktu, dan biaya.
Komunikasi bermedia (public media and mass media) pada umumnya banyak digunakan untuk komunikasi informative, karena tidak begitu ampuh untuk mengubah tingkah laku. Lebih-lebih media massa. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa kurang sekali keampuhannya dalam mengubah tingkah laku komunikan. Walaupun demikian, tetap ada untung ruginya. Kelemahan komunikasi bermedia ialah tidak persuasive, sebaliknya kekuatannya dapat mencapai komunikan dalam jumlah yang besar. Komunikasi tatap muka kekuatannya ialah dalam hal mengubah tingkah laku komunikan, tetapi kelemahannya ialah bahwa komunikan yang dapat diubah tingkah lakunya itu relatif hanya sedikit saja, sejauh bisa berdialog dengannya (Onong Uchajana Effendy, 2003:301-303).
Berkomunikasi menggunakan media menjadi kurang efektif,  contohnya saja bila mengirimkan sebuah pesan melalui e-mail. Bahasa yang digunakan pun kurang baik, seperti menggunakan bahasa untuk menulis SMS. Waktu menerima pesan pun menjadi lebih cepat. Masyarakat zaman sekarang lebih menyenangi semua hal yang berbau instan, baik dari makanan sampai cara berkomunikasi. Menganggap menggunakan media tradisional seperti surat, hanya menghabiskan waktu. Anak muda saat ini pun sering berkomunikasi dengan temannya dengan menggunakan pesan chatting.
Bahkan sering kita dengar kasus penculikan  yag berawal dari sebuah situs jejaring sosial seperti facebook, kemudian berlanjut pada chatting di situs jejaring sosial tersebut, hanya dengan melihat foto, para korban situs ini pun langsung tertarik, sebelum membuat janji untuk bertemu di suatu tempat. Fenomena tersebut sedang marak – maraknya terjadi di lingkungan anak sekolahan seperti SMP, dan SMA. Menurut pengamatan, anak muda saat ini pun merasa lebih nyaaman apabila berkomunikasi lewat dunia virtual dibandingkan harus bertemu langsung. Ada berbagai alasan hal ini terjadi ,yakni anak tersebut merasa kurang percaya diri bila langsung bertemu dengan teman di lingkup sekitarnya, dan juga anak tersebut memang merasa percaya diri bila berkenalan melalui dunia internet sebagai pengantara.
Sebagai contoh kasus, ada seorang murid SMPN 28, Bandung yang hilang setelah pulang sekolah karena diculik. Penculiknya pun tak tanggung – tanggung adalah seorang teman kenalannya dari situs jejaring sosial facebook. Sebutlah namanya bunga (13 tahun). Bunga yang saat pulang berjalan keluar dari sekolahnya dijemput oleh seorang laki – laki yang datang menggunakan mobil kijang LGX. Lelaki tersebut bernama Deni dan mengaku sebagai teman bunga di facebook. Karena bunga merasa foto yang ada di dalam facebook dan yang sebenarnya sangat berbeda, maka bunga memutuskan untuk turun dari mobil tersebut. Bunga pun diancam, bila berani turun dari mobil, Deni akan menghentikan mobilnya di Jurang. Karena takut, Bunga tidak jadi untuk turun., Deni membawa bunga ke sebuah daerah di Subang, Jawa Barat selam 3hari. Bunga pun baru menyadari bahwa Deni hanya seorang supir pengantara sayur – sayuran, dan mobil yang digunakan untuk menjemput Bunga hanyalah mobil sewaan dari temannya Deni. Bunga pun akhirnya dijemput oleh seorang intel polisi Jawa barat dan mengajak Bunga untuk pulang. Akhirnya Bunga pun kembali kepada kedua orang Tuanya, sedangkan Deni dipenjara selama 15 Tahun karena kasus penculikan.
Dari contoh berita diatas, dapat dilihat dari segi komunikasi interpersonal, seseorang merasa percaya diri bila berkenalan melalui dunia virtual sajam komunikasi tatap muka dirasa sebagai cara berkomunikasi kedua setelah menggunakan komunikasi bermedia. Jadi intinya, berkomunikasi secara tatap muka  dan berkomunikasi dengan media, kedua – duanya efektif, hanya yang membedakannya adalah medianya saja yang digunakan.


            DISUSUN OLEH : ELLISABETH DEVI RENAYAN (090903925)

Jumat, 03 Desember 2010

komunikasi interpersonal tatap muka dengan komunikasi bermedia

Di era modern saat ini, manusia tidak dapat lepas dari teknologi yang juga mengikuti perkembangan zaman. Kecanggihan teknologi saat ini juga turut menjadi salah satu media pendukung setiap orang dalam berkomunikasi. Dapat dilihat, kecanggihan teknologi komunikasi seperti berbagai fitur – fitur dalam computer, dan ponsel.  Dahulu, sebelum adanya kecanggihan teknologi seperti ini. Orang – orang menggunakan media alternative dalam mengirimkan pesan. Sebut saja menggunakan media surat untuk berkomunikasi dengan kerabat keluarga. Media surat saat itu sangat popular, bahkan orang –orang pun berlomba untuk mengirimkan surat sebanyak – banyaknya di kantor pos. Tetapi, pada kenyataanya media surat ini tidak sepopuler dulu. Masyarakat mulai satu per satu meninggalkan media surat ini. Media surat saat ini pun hanya digunakan di kalangan instansi perusahaan saja.
Adapun cara kita berkomunikasi dengan melakukan dua cara yakni : komunikasi secara tatap muka, dan komunikasi bermedia. Komunikasi tatap muka dilakukan untuk mengetahui efek perubahan tingkah laku dari komunikannya. Komunikasi tatap muka memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Keuntungan menggunakan komunikasi interpersonal tatap muka adalah kita dapat melihat respon balik atau umpan balik komunikan saat melakukan proses interaksi. Jika umpan balik yang diberikan bersifat positif, maka kita pesan kita dapat diterima dengan baik oleh komunikasn. Sebaliknya bila respon bersifat negative, maka kita sebagai komunikator harus memperbaiki cara  penyampaian pesan yang dimaksud.
Ada perbedaan yang mendasar antara komunikasi bermedia dan komunikasi tatap muka. Komunikasi bermedia itu efisien, tapi kurang efektif. Sebaliknya, komunikasi bertatap muka itu kurang efisien, tapi efektif. Bila kita membutuhkan kecepatan (atau pun keluasan) penyampaian informasi, maka komunikasi bermedia merupakan pilihan yang lebih tepat. Namun bila kita memerlukan kedalaman (atau keakuratan) isi informasi, maka komunikasi tatapmukalah yang lebih tepat.
Tatap muka menjadi lebih efektif sebab, pesan nonverbal (di balik kata-kata) lebih tampak jelas dalam komunikasi tatap muka. Hanya dengan pengamatan terhadap pesan nonverbal dalam komunikasi tatapmuka itulah kita bisa tahu si dia luar-dalam. Karenanya, supaya lebih tahu baik-buruknya si dia, komunikasi tatap-muka itu mutlak diperlukan. Memang, komunikasi tatap muka itu kurang efisien. Seringkali dibutuhkan pengorbanan untuk melakukannya.
Kelemahan dari komunikasi tatap muka adalah ketidak efektifan waktu. Komunikator dan komunikan harus bertemu dalam melakukan proses komunikasi dan menghabiskan waktu bersama di sebuah tempat. Memang, sebenarnya komunikasi tatap muka dapat menjadi lebih efektif bila melakukan hal melobby yang biasa dilakukan oleh para pimpinan perusahaan dengan pimpinan perusahaan lainnya.
Dari beberapa penjelasan mengenai komunikasi interpersonal tatap muka dapat dilihat bahwa, komunikasi dengan tatap muka memiliki keuntungan yakni kita sebagai komunitor dapat melihat respon balik dari komunikan, tetapi komunikator juga harus memiliki waktu untuk melakukan pertemuan. Komunikasi interpersonal bermedia. Media saat ini merupakan alat bantu komunikasi yang sangat efektif. Alat  komunikasi yang dapat digunakan seperti computer, bahkan computer portable (laptop, i-pad), ponsel, kini ada ponsel pintar. Bila ingin mengirimkan surat dapat melalui surat elektrik atau dikenal sebagai e-mail. Berbagai alat komunikasi canggih tersebut, kini lebih sering digunakan oleh khalayak, karena dapat menghemat, waktu, dan biaya.
Komunikasi bermedia (public media and mass media) pada umumnya banyak digunakan untuk komunikasi informative, karena tidak begitu ampuh untuk mengubah tingkah laku. Lebih-lebih media massa. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa kurang sekali keampuhannya dalam mengubah tingkah laku komunikan. Walaupun demikian, tetap ada untung ruginya. Kelemahan komunikasi bermedia ialah tidak persuasive, sebaliknya kekuatannya dapat mencapai komunikan dalam jumlah yang besar. Komunikasi tatap muka kekuatannya ialah dalam hal mengubah tingkah laku komunikan, tetapi kelemahannya ialah bahwa komunikan yang dapat diubah tingkah lakunya itu relatif hanya sedikit saja, sejauh bisa berdialog dengannya (Onong Uchajana Effendy, 2003:301-303).
Berkomunikasi menggunakan media menjadi kurang efektif,  contohnya saja bila mengirimkan sebuah pesan melalui e-mail. Bahasa yang digunakan pun kurang baik, seperti menggunakan bahasa untuk menulis SMS. Waktu menerima pesan pun menjadi lebih cepat. Masyarakat zaman sekarang lebih menyenangi semua hal yang berbau instan, baik dari makanan sampai cara berkomunikasi. Menganggap menggunakan media tradisional seperti surat, hanya menghabiskan waktu. Anak muda saat ini pun sering berkomunikasi dengan temannya dengan menggunakan pesan chatting.
Bahkan sering kita dengar kasus penculikan  yag berawal dari sebuah situs jejaring sosial seperti facebook, kemudian berlanjut pada chatting di situs jejaring sosial tersebut, hanya dengan melihat foto, para korban situs ini pun langsung tertarik, sebelum membuat janji untuk bertemu di suatu tempat. Fenomena tersebut sedang marak – maraknya terjadi di lingkungan anak sekolahan seperti SMP, dan SMA. Menurut pengamatan, anak muda saat ini pun merasa lebih nyaaman apabila berkomunikasi lewat dunia virtual dibandingkan harus bertemu langsung. Ada berbagai alasan hal ini terjadi ,yakni anak tersebut merasa kurang percaya diri bila langsung bertemu dengan teman di lingkup sekitarnya, dan juga anak tersebut memang merasa percaya diri bila berkenalan melalui dunia internet sebagai pengantara.
Sebagai contoh kasus, ada seorang murid SMPN 28, Bandung yang hilang setelah pulang sekolah karena diculik. Penculiknya pun tak tanggung – tanggung adalah seorang teman kenalannya dari situs jejaring sosial facebook. Sebutlah namanya bunga (13 tahun). Bunga yang saat pulang berjalan keluar dari sekolahnya dijemput oleh seorang laki – laki yang datang menggunakan mobil kijang LGX. Lelaki tersebut bernama Deni dan mengaku sebagai teman bunga di facebook. Karena bunga merasa foto yang ada di dalam facebook dan yang sebenarnya sangat berbeda, maka bunga memutuskan untuk turun dari mobil tersebut. Bunga pun diancam, bila berani turun dari mobil, Deni akan menghentikan mobilnya di Jurang. Karena takut, Bunga tidak jadi untuk turun., Deni membawa bunga ke sebuah daerah di Subang, Jawa Barat selam 3hari. Bunga pun baru menyadari bahwa Deni hanya seorang supir pengantara sayur – sayuran, dan mobil yang digunakan untuk menjemput Bunga hanyalah mobil sewaan dari temannya Deni. Bunga pun akhirnya dijemput oleh seorang intel polisi Jawa barat dan mengajak Bunga untuk pulang. Akhirnya Bunga pun kembali kepada kedua orang Tuanya, sedangkan Deni dipenjara selama 15 Tahun karena kasus penculikan.
Dari contoh berita diatas, dapat dilihat dari segi komunikasi interpersonal, seseorang merasa percaya diri bila berkenalan melalui dunia virtual sajam komunikasi tatap muka dirasa sebagai cara berkomunikasi kedua setelah menggunakan komunikasi bermedia. Jadi intinya, berkomunikasi secara tatap muka  dan berkomunikasi dengan media, kedua – duanya efektif, hanya yang membedakannya adalah medianya saja yang digunakan.


            DISUSUN OLEH : ELLISABETH DEVI RENAYAN (090903925)

Minggu, 28 November 2010

KOMUNIKASI NON VERBAL MAHASISWA FISIP UAJY

PENGGUNAAN  KOMUNIKASI NON VERBAL  MAHASISWA/I FISIP UAJY
            Komunikasi merupakan salah satu komponen terpenting dalam kehidupan manusia. Baik kehidupan di dalam masyarakat maupun kehidupan antar masing – masing individu. Komunikasi antar pribadi pun harus berjalan dengan seimbang dan hubungan tetap terjaga dengan baik. Komunikasi interpersonal tidak hanya dilakukan oleh seorang pimpinan yang sedang melobby seorang rekanan untuk kepentingan perusahaan saja. Tetapi komunikasi interpersonal juga dapat dilakukan oleh seorang mahasiswa dengan dosennya. Kepentingan tersebut pun bermacam-macam, dari kepentingan untuk masalah perkuliahan sampai kepentingan untuk menyampaikan sebuah permasalahan hidup ( sharring ).
Komunikasi interpersonal pun lekat hubungannya dengan komunikasi verbal dan non verbal. Adapun pengertian dari komunikasi non-verbal yakni komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Sedangkan komunikasi verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Dalam hal ini, perlu dipahami terlebih dahulu apa saja klasifikasi dalam komunikasi non verbal .
Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:
1.      Pesan kinesik. Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.
a.      Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad.
b.      Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.
c.       Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah: Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.

2.      Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.

3.      Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.


4.      Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda. Pesan ini oleh Dedy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa.

Dari beberapa bentuk dan pengertian komunikasi non verbal diatas, objek penelitian yang dilakukan adalah mahasiswa/i FISIP UAJY. Melakukan pengamatan atas komunikasi non verbal yang kebanyakan dilakukan oleh mahasiswa/i FISIP UAJY adalah pesan artifaktual. Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.
Pesan artifaktual dipilih karena, kebanyakan warga FISIP UAJY adalah wanita, dan sebagian besar mahasiswi di fisip saat datang ke kampus 60% bergaya stylish,dan mode yang up to date. Mahasiswa berstatus ekonomi menengah keatas sesuai dengan gaya berpakaiannya yang stylish. Sedangkan mahasiswi yang berstatus ekonomi menengah atau standar, sesuai dengan gayanya yang berpakaian biasa saja. Di fisip pula dapat terlihat bahwa untuk masalah pertemanan terjadi sebuah “gap” atau kesenjangan antar individunya. Mahasiswa kelas ekonomi menengah keatas ,pasti berteman dengan mahasiswa yang status ekonominya juga menengah keatas.  
Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi fisip lebih mementingkan cara penampilannya agar terlihat berbeda dengan orang lain dan menjadi seorang trendsentter diantara mahasiswa lainnya. Dari pakaian bermerek terkenal seperti D&G, GUCCI, CHANNEL, HERMES, LOUIS VUITTON, sampai pakaian yang tak bermerek pun terdapat di kampus fisip ini, Menurut mereka( para mahasiswa/I FISIP UAJY), penampilan yang baik akan membuat mereka nyaman, dan percaya diri untuk bersosialisasi, dan melatih mereka dalam dunia bekerja. Penampilan dalam berpakaian di FISIP UAJY menjadi ajang tersendiri bagi mereka. Ada seorang mahasiswi di FISIP UAJY yang sudah bekerja menjadi seorang model.
Dari pengamatan yang dilakukan, mahasiswi tersebut setiap kali datang ke kampus setiap hari pasti dengan gaya berpakaian yang berbeda – beda setiap harinya. Dalam seminggu, tidak ada baju dipakai dua kali, begitu juga pada minggu berikutnya. Bentuk tubuh yang baik, dan proposional tidak menjadi suatu permasalahan dalam mengenakan pakaian – pakaian tersebut. Jadi, pada intinya komunikasi non- verbal yang dilakukan adalah dengan komunikasi non verbal artifaktual.
SUMBER :
·         Mulyana, Deddy . 2008. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar.  Bandung :  PT. Remaja Rosdakarya.
DISUSUN OLEH : ELLISABETH DEVI R
03925

Senin, 13 September 2010

TUGAS KOM.INTERPERSONAL_(MODEL INTERAKSIONAL)

Model  Interaksional
Model interaksional memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, dan imtegratif. Semua terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Dalam model interaksional ini menggunakan teori interaksional simbolik. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kam. 2001: 438), definisi interaksi adalah hal yang saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi, antarhubungan dan definisi simbolis (Kam. 2001: 1066) adalah sebagai lambang, menjadi lambang, mengenai lambang.
Interaksi simbolik adalah segala hal yang saling berhubungan dengan pembentukan makna dari suatu benda atau lambang atau simbol, baik benda mati, maupun benda hidup, melalui proses komunikasi baik sebagai pesan verbal maupun perilaku non verbal, dan tujuan akhirnya adalah memaknai lambang atau simbol (objek) tersebut berdasarkan kesepakatan bersama yang berlaku di wilayah atau kelompok komunitas masyarakat tertentu.

Teori interaksi simbolik menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi, serta inti dari pandangan pendekatan ini adalah individu (Soeprapto. 2007)
Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya di tengah interaksi sosial, dan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap.
Adapun George Herbert Mead yang menerapkan tiga tema konsep  pemikiran yang mendasari interaksi simbolik antara lain: 
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia
     Berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, dalam kehidupan sehari – hari setiap individu melakukan proses interaksi untuk mendapatkan makna dari komunikasi yang dilakukan. 

2. Pentingnya konsep mengenai diri 
     Berfokus pada pentingnya ”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya.
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat
Berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tetapi pada akhirnya setiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya, untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial.

Ciri khas dari teori interaksi simbolik terletak pada penekanan manusia dalam proses saling menterjemahkan, dan saling mendefinisikan tindakannya, tidak dibuat secara langsung antara stimulus-response, tetapi didasari pada pemahaman makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain melalui penggunaan simbol-simbol, interpretasi, dan pada akhirnya tiap individu tersebut akan berusaha saling memahami maksud dan tindakan masing-masing, untuk mencapai kesepakatan bersama. 
Contoh sederhananya saja saat kita melihat seorang perempuan berasal dari daerah terpencil yang ingin merasakan kuliah di kota-kota besar seperti Jakarta ataupun Bandung. Saat kita melihat caranya berpakaian pasti akan dianggap tidak modis, ataupun fashionable, melihatnya seperti anak “kampungan” dengan gaya berpakaian seperti itu. Kata kampung tersebut langsung tersirat seketika, dan mempunyai makna yang negative, dan terjadi akibat konstruksi dari pandangan individu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA:

·         Mulyana, Deddy . 2008. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar.  Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
·         Soeprapto, Riyadi. 2007. Teori Interaksi Simbolik. Averroes Community - Membangun Wacana Kritis Rakyat. Melalui http://www.averroes.or.id/research/teori-interaksionisme-simbolik
·         Kam. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-3 – Cetakan 1. Jakarta : Balai Pustaka.